Walk Away..
Bagaimana bisa..ada alasan yang tak nalar
Aduh aku berhadapan dengan makhluk macam apa..
Ya Tuhan...sungguh ini seperti kebodohan
Apa sebenarnya kau inginkan....
Lagi...
Lagi..
Lagi...
.
.
.
.
.
Lukai
Kini kukira rasaku benar-benar mati
Setelah kesekian kali
Aku tak sanggup lagi
Bahkan airmata dan tawa hampir tak ada bedanya
Sungguh..aku tak sanggup lagi..
Baiklah...baiklah..baiklah...
Ku akan benar-benar pergi kali ini...
Tak kusangka..akhirnya ku dapat juga..
Relakan sebuah cerita
Yang masih seperti sebuah mimpi
Walau itu realita adanya..
Selamat tinggal masa lalu…
Terimakasih, karena tanpa dirimu...
Mungkin aku masih sendu..
Dan setelah semua yang berlalu
Maafkanlah aku..
Saat merasa teralienasi
Mencarimu dalam celah-celah neuron
Aha..kau masih ada disitu
Dengan segala tingkah yang membuatku tersipu malu
Dan hanya senyumku yang terkembang
Seiring sillhouetmu yang perlahan memudar
Hey sadarlah!!!
Begitu bisik malaikat penjaga
Jangan cemas dia masih mengingatmu
Lihat saja sapaannya, pasti ada disana.
Di tempat banyak sahabatmu bercerita
Tapi aku tak bisa memastikan
Sampai kapan itu berjalan
Ujar sang malaikat..
Terlalu
Selalu saja telat bangun di pagi hari
Selalu saja mengeluh setiap waktunya
Selalu aneh dengan mengatakan aneh
Terlalu
Jika ada yang mendadak jadi monster seram
Membuat anak orang tak bisa tidur nyenyak
Membuat anak orang tak enak makan
Membuat anak orang nangis berdarah-darah
Terlalu
Jika mengharap airmata kembali ke kelopak mata
Jika mengharap aliran sungai di hilir kembali ke hulu
Jika mengharap air susu Ibu kembali ke payudaranya
Jika mengharap Matahari terbit dari utara
Terlalu
Jika pemikirannya masih kanak-kanak
Jika belum berani dewasa
Memang terlalu
Sungguh terlalu
Terlalu....
Apakah ini sudah usai
Bahkan tak ada titik celah untuk cerita baru yang menyejukkan
Atau takut cerita terulang
Atau memang benar-benar ditinggalkan dan meninggalkan
Terimakasih atas segala cerita dari awal hingga akhir
Semoga berbuah kebaikan..
Dulu
Dirimu seperti hantu..
Jadi bayangku setiap waktu
Sungguh mengerikan saat pikiran terpenuhimu
Kini
Dirimu telah berlalu pergi
Ku kembali sendiri nikmati hari..
Rasakan sunyi sepi penawar hati..
Namun kini dan dulu
Akan tetap dalam genggamanku
Kenangan yang tak kan lekang dimakan waktu
terpatri di relungku
Akan selalu begitu....
Kaulah pernah jadi cerita yang terukir
Saat imaji melumat kehendak raga,
Kata dan suara seolah tak berdinding,
menghempaskan semua keraguan jiwa,
berjanji dalam irama yang senada.
Membunuh sepi tinggalkan hening,
rasa yang bergemuruh,
angan yang diperturutkan, hiasi malam.
Meski kemudian memudar, lenyap tersaput suara hati
dan tersisa menjadi kenangan
Kenangan yang pasti akan selalu jadi kenangan
Meski kenangan ini sangat melelahkan
Tak cukup rasa enggan lupakan
Mengaburkannya dalam jiwa
Menyamarkannya dari hati.
Ya, itu masih kini, masih seperti perihnya luka
Namun aku percaya waktu jadi penyembuhnya
Ku hanya harus bersabar menanti
Menunggu dan menunggu
Hingga kenangan akan sebatas kenangan
Tak lebih tak kurang
Itu saja, dan ku kan tenang
Jangan dikatakan
Jangan ditampakkan
simpan di hati saja
katakan tidak?
katakan tidak?
Akh...akh..akh..
Baiklah, Tidak Katakan ;)